Gajah Mengamuk di Perumahan Riau, Ternyata Anaknya Terjebak Septic Tank

Nasional452 Dilihat

Riau, Nusaflow – Seekor anak gajah betina ditemukan terperosok ke dalam tangki septik sedalam sekitar 2 hingga 2,5 meter di kawasan perumahan karyawan PT Arara Abadi, Distrik Tapung, Desa Rantau Bertuah, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, Riau.

Peristiwa ini terjadi setelah sekelompok gajah liar memasuki area permukiman dan sempat merusak sejumlah fasilitas milik karyawan. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Supartono, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan terkait gangguan tersebut dan segera menurunkan tim penyelamat satwa.

Tim yang diterjunkan merupakan Wildlife Rescue Unit (WRU), yang terdiri dari tenaga medis dan mahout dari Pusat Latihan Gajah Minas. Mereka langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan penanganan.

Menurut Supartono, awalnya sekitar 10 ekor gajah liar terlihat mengamuk sambil merusak enam kamar mess karyawan. Situasi baru mulai kondusif setelah kawanan gajah tersebut kembali menuju area hutan lindung atau greenbelt yang berada di sekitar lokasi.

Namun, di tengah kondisi tersebut, terdengar suara raungan anak gajah yang kemudian diketahui berasal dari dalam tangki septik. Setelah dilakukan pencarian, tim menemukan seekor anak gajah yang terjebak di dalam lubang tersebut.

“Setelah ditemukan, anak gajah segera dievakuasi secara manual dengan cara ditarik keluar dari dalam septic tank. Proses evakuasi berlangsung sekitar 45 menit,” jelas Supartono.

Beruntung, setelah berhasil dikeluarkan, kondisi anak gajah tersebut dilaporkan dalam keadaan sehat tanpa luka serius. Tim kemudian segera mengembalikannya ke kelompok gajah liar yang sebelumnya berada di kawasan hutan lindung.

Anak gajah tersebut diketahui berjenis kelamin betina dengan perkiraan usia sekitar tujuh hari. Diduga, anak gajah itu baru saja lahir di area greenbelt yang berada tidak jauh dari lokasi permukiman.

Supartono menjelaskan bahwa aksi kawanan gajah yang sempat merusak perumahan kemungkinan besar dipicu oleh upaya mereka mencari dan menyelamatkan anaknya yang terjebak.

“Diduga gajah-gajah tersebut mengamuk karena mendengar raungan anaknya yang terperangkap,” ujarnya.

Wilayah perumahan karyawan tersebut memang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung yang menjadi jalur lintasan alami kelompok gajah liar dari kawasan Petapahan/Minas. Keberadaan gajah di sekitar area tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi warga setempat.

Pada Sabtu malam (21/2), sejumlah karyawan sempat melihat 3 hingga 4 ekor gajah berada di area greenbelt dengan jarak sekitar 10 meter dari permukiman. Namun, pada Minggu pagi (22/2) sekitar pukul 05.00 hingga 06.00 WIB, jumlah gajah yang datang meningkat menjadi sekitar 10 ekor dan mulai merobohkan bagian bangunan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar, khususnya di wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat alami hewan seperti gajah Sumatera.

Komentar