Jakarta, Nusaflow – Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS menjadi alarm serius bagi pasar keuangan. Per Selasa (20/1) sore, kurs rupiah ditutup di level Rp16.956, rekor terendah sepanjang sejarah setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp16.891 pada April 2025.
Meski para ekonom menilai kondisi ini belum masuk kategori krisis, dampaknya diprediksi akan mulai merambat ke biaya hidup masyarakat melalui fenomena yang disebut “inflasi sunyi”.
Ancaman ‘Inflasi Sunyi’ dan Tergerusnya Daya Beli
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, menjelaskan bahwa dampak yang paling cepat dirasakan adalah kenaikan harga barang yang bergantung pada impor. Sektor pangan (gandum, kedelai, gula), obat-obatan, elektronik, hingga potensi kenaikan biaya BBM dan LPG berada di garis depan.
“Ujungnya terjadi semacam ‘inflasi sunyi’. Rupiah melemah perlahan, tapi dompet masyarakat bocor dengan cepat karena kenaikan harga barang pokok. Daya beli kelas menengah bawah akan paling tergerus,” ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.
Mengapa Rupiah Melemah?
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal:
-
Sentimen Global: Penguatan dolar AS sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian dunia menekan mata uang negara berkembang.
-
Kekhawatiran Domestik: Pasar menyoroti defisit anggaran yang melebar dan risiko kenaikan beban subsidi energi dalam APBN.
-
Kredibilitas Kebijakan: Investor sedang memantau arah kebijakan fiskal pemerintah untuk memastikan fundamental ekonomi tetap terjaga.
Dampak ke Suku Bunga dan Lapangan Kerja
Ekonom Bright Institute, Muhammad Andri Perdana, menyoroti dampak dari sisi moneter. Depresiasi rupiah membuat Bank Indonesia (BI) sulit untuk menurunkan suku bunga.
“Akibatnya, suku bunga perbankan tetap tinggi. Ini menghambat ekspansi dunia usaha, membatasi pertumbuhan ekonomi, dan mempersulit penciptaan lapangan kerja baru,” jelas Andri.
Senada dengan itu, Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa fenomena ini bersifat luas di negara berkembang. “Rupiah melemah bukan karena ekonomi kita memburuk tiba-tiba, tapi karena arus global yang memang sedang tidak ramah,” tuturnya.







Komentar